Selasa, 26 Desember 2017

PENAKLUKKAN BALI OLEH MAJAPAHIT (1343 M)

Majapahit Penguasa Nusantara Adalah Fakta
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
ADITYAWARMAN KSATRIA MAJAPAHIT
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343.
Dikisahkan, Arya Damar memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara, sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama.

Di dalam beberapa babad di Jawa dan Bali, Adityawarman juga dikenal dengan nama Arya Damar. Adityawarman turut serta dalam ekspansi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada.

Dalam catatan Babad Arya Tabanan, disebutkan bahwa Gajah Mada dibantu seorang Ksatria bernama Arya Damar, yang merupakan nama alias Adityawarman.

Dari uraian Kitab Purana Bali Dwipa dinyatakan " Perang Arya Dhamar saking kulwan anekani perang lan sutanire anama Arya Kenceng, Arya Dhalancang, arya Tan Wikan (Arya Belog) " yang artinnya bahwa pada waktu Adityawarman ke Bali ikut serta putra-putra beliau, yaitu:
- Arya Kenceng
- Arya Dhalancang
- Arya Tan Wikan ( Arya Belog )

Arya Damar diperkirakan lahir tahun 1294 M, dan pada waktu ekspedisi Majapahit ke Bali tahun 1343, beliau diperkirakan berusia 50 tahunan sehingga sudah sewajarnya mempunyai putra yang sudah menginjak dewasa dan ikut serta berperang membantu ayahnya.

Kerajaan Bedahulu adalah kerajaan kuno yang berdiri sejak abad ke-8 sampai abad ke-14 di pulau Bali, dan diperintah oleh raja-raja keturunan wangsa Warmadewa. Ketika menyerang Bali, Raja Bali yang menguasai saat itu adalah seorang Bhairawis penganut ajaran Tantrayana. Untuk mengalahkan Raja Bali itu, maka Adityawarman juga menganut Bhairawis untuk mengimbangkan kekuatan.

Kembali ke sejarah Arya Damar dalam ekspedisi Majapahit Ke Bali, Setelah Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali maka terjadilah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1334 dengan Candrasangkala Caka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima perang Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya.

Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan. Dari Hasil perundingan tersebut diputuskan untuk menyerang bali dari 3 arah yang berbeda sebagai berikut :

Dari Arah Timur

Penyerangan Bali dari arah timur akan dipimpin oleh Patih Gajah Mada bersama dengan para patih keturunan Mpu Witadarma, Krian Pemacekan, Ki Gajah Para, Krian getas akan mendarat di Toya Anyar.

Dari Arah Utara

Penyerangan Bali dari arah utara akan dipimpin oleh Arya Damar bersama dengan Arya Sentong dan Arya Kutawaringin akan mendarat di Ularan.

Dari Arah Selatan

Penyerangan Bali dari arah selatan akan dipimpin oleh Arya Kenceng bersama dengan Arya Belog (Tan Wikan), Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan akan mendarat di pantai Kuta.

Kedatangan prajurit Majapahit tersebut membuat Pulau Bali bagaikan bergetar, rakyat Bali menjadi panik dan melaporkan hal tersebut kepada pangeran Sri Madatama yang merupakan putra mahkota kerajaan Bali, serta kehadapan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Setelah mendengar laporan tersebut, Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten kemudian mengutus putranya pangeran Sri Madatama untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.

Setelah memastikan kebenaran berita tersebut, Krian Pasung Grigis beserta para patih lainnya segera punggawa menyiapkan pasukannya masing masing dengan membagi pasukan menjadi 3 sesuai arah pengepungan pasukan dari Majapahit.
Pertahanan di wilayah Utara dijaga oleh Ki Pasung Grigis, Si Buwan dan Krian Girikmana.
Pertahanan di wilayah Barat dijaga oleh Sri Madatama, Ki Tambyak, Ki Walumgsingkat dan Ki Gudug Basur.
Pertahanan di wilayah Timur dijaga oleh Ki Tunjung Tutur, Kom Kopang dan Ki Tunjung Biru.

Pertempuran di Bali bagian utara tidak kalah serunya. Daerah Ularan dipertahankan oleh Ki Girikmana, diserang oleh pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Panglima Arya Damar.
Terjadi pertempuran antara kedua pimpinan pasukan yaitu Arya Damar dengan Si Girikmana.

Kedua pasukan yang tadinya bertempur menghentikan pertempuran untuk menyaksikan perang tanding ke dua tokoh tersebut. Dalam perang tanding yang berlangsung sangat seru tersebut masing masing menunjukkan kesaktiannya untuk secepatnya melumpuhkan musuhnya, sampai akhirnya Si Girikmana tidak mampu menandingi kesaktian Arya Damar sehingga gugur dalam pertempuran sebagai kesatria sejati.
Gugur pula dari pihak kerajaan Bali Krian Jembrana sebagai prajurit yuda.

Pasukan Majapahit di wilayah Selatan dibawah pimpinan Arya Kenceng menggempur habis habisan, tiada henti hentinya mengurung pasukan musuh dari segala arah.
Pasukan Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak mulai terdesak dan banyak yang mati terluka. Dalam keadaan terdesak Ki Tambyak berhasil mengalahkan Kyai Lurah Belambangan. Tubuhnya dilemparkan oleh Ki Tambyak sehingga terpelanting ke tempat yang agak jauh. Kyai Lurah Belambangan menghembuskan napasnya yang terakhir, gugur sebagai prawira yuda yang gagah berani.

Melihat kawan seperjuangannya gugur, Arya Balancang, Arya Sentong, Arya Wangbang dan Kyai Banyuwangi maju bersamaan untuk mengimbangi kekuatan musuh.
Ki Tambyak adalah seorang patih kerajaan Bali yang sangat teguh dan sakti sehingga sulit untuk dikalahkan, kalau hal tersebut terus dibiarkan maka makin banyak korban yang berjatuhan dari pihak Majapahit.

Untuk menghindari hal tersebut maka pimpinan pasukan Majapahit di wilayah selatan yaitu Arya Kenceng memutuskan menghadapi langsung Ki Tabyak. Dalam pertempuran satu lawan satu tersebut masing masing pihak berusaha saling mengalahkan. Karena hebatnya perang tanding tersebut prajurit dari kedua belah pihak sampai menghentikan pertempuran untuk menyaksikan kedua tokoh sakti tersebut saling mengalahkan.
Namun demikian ternyata Arya Kenceng dapat memanfaatkan kelengahan Ki Tambyak sehingga dapat terus menekannya. Ki Tambyak akhirnya gugur dalam pertempuran sampai kepalanya terpisah dari badannya.

Dengan gugurnya Ki Tambyak pertahanan Bali di wilayah selatan menjadi lemah, karena hanya menyisakan Ki Gudug Basur. Dalam Pertempuran tersebut Ki Gudug basur diserang dari segala arah oleh para Arya dari Majapahit. Namun I Gudug basur ternyata mempunyai ilmu yang sangat tinggi yaitu teguh, kebal oleh senjata apapun sehingga para Arya mengalami kesulitan untuk mengalahkannya.

Namun demikian walaupun tubuhnya tidak dapat terluka apabila terus menerus digempur dari segala arah lama kelamaan Ki Gudig Basur kehabisan tenaga dan sehingga dapat dikalahkan oleh pasukan dari Majapahit. Dengan Gugurnya Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak maka daerah Seseh, Tralangu, Padang Sambian, Kedonganan, Benua, jimbaran, Kuta, Mimba, Suwung, Sesetan, Tuban, Renon, Batankendal, Sanur, Tanjungbungkah, Kaba Kaba, Kapal, Tanah barak, Camagi, Munggu, Parerenan, Dukuh, Kemoning, Pandak, Kelahan, Pancoran, Babahan, Keliting, Cengkik dan Kerambitan dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Kenceng.

Sisa sisa langkar Bedahulu yang masih tersisa setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran menyelamatkan diri dan mengungsi ke daerah Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serahi, Sukawana, Panarajon, Kintamani, Pludu, Manikliu, dan ada pula yang mengungsi ke daerah timur seperti Culik, Tista, Margatiga, Muntig, Got, Garbawana, Lokasarana, Garinten, Sekul Kuning, Puhan, Hulakan, Sibetan, Asti, Watuwayang, Kadampai, Bantas, Turamben, Crutcut, Datah, Watidawa, Kutabayem.

Kemenangan Pasukan Majapahit di wilayah selatan yang dipimpin oleh Arya Kenceng, melengkapi kemenangan pasukan Majapahit yang terlebih dahulu berhasil mengusai wilayah Utara dan Timur Pulau Bali sehingga praktis semua daerah pesisir Bali dapat dikuasai. Sekarang tinggallah Krian Pasung Grigis yang bertahan di desa Tengkulak di wilayah Bali Bagian Tengah.

Pertempuran yang terjadi berakhir dengan kekalahan Bedahulu, dan patih Bedahulu Kebo Iwa gugur. Sementara raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten pergi mengasingkan diri. Setelah Bali berhasil ditaklukan, Arya Damar kembali ke Majapahit. Sebagian kerabat Arya Damar ada yang menetap di Bali, dan di kemudian hari salah seorang keturunan dari Arya Damar mendirikan Puri Denpasar dan Puri Pemecutan di Denpasar.

Penulis : Lanang Dawan di 01.33

Dibagikan oleh : Mahesa Reksa Kembara

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷ * * * ÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Sabtu, 16 Desember 2017

AL QUR'ANUL KARIM

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

[All] praise is [due] to Allah, Lord of the worlds

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam

(QS : Al-Fatihah : 2)

**

Senin, 04 Desember 2017

CIKAL BAKAL KOTA SALATIGA

PRASASTI PLUMPUNGAN

Prasasti Plumpungan (juga disebut Prasasti Hampran) adalah prasasti yang ditemukan di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah.
Prasasti ini ditulis pada sebongkah batu besar andesit berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dengan garis lingkar 5 meter.

Prasasti Plumpungan dianggap sebagai cikal bakal berdirinya Kota Salatiga, yaitu dengan diresmikan pendirian Perdikan Hampra/ Hampran di wilayah Trigramyama oleh seorang tokoh yang bernama Bhanu pada 750 Masehi.

Para ahli menduga bahwa Bhanu adalah salah seorang raja dari Wangsa Syailendra, meskipun Prasasti Plumpungan tidak menyebutkan kedudukan beliau, juga tidak ada keterangan kaitan beliau dengan Wangsa Syailendra.

Sedangkan Trigramyama yang merupakan watek (wilayah) yang membawahi desa Perdikan Hampran dianggap sebagai asal muasal nama kota Salatiga.

Terjemahan Isi Prasasti Plumpungan

Semoga bahagia ! Selamatlah rakyat sekalian ! Tahun Saka telah berjalan 672/4/31 (24 Juli 760 M) pada hari Jumat tengah hari Dari beliau, demi agama untuk kebaktian kepada Yang Maha Tinggi,

telah menganugerahkan sebidang tanah atau taman, agar memberikan kebahagiaan kepada mereka yaitu desa Hampra yang terletak di wilayah Trigramyama (Salatiga) dengan persetujuan dari Siddhdewi (sang dewi yang sempurna/mendiang) berupa daerah bebas pajak (perdikan)

ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti yang ditulis menggunakan ujung mempelam dari beliau yang bernama BHANU.

(dan mereka) dengan bangunan suci atau candi ini. Selalu menemukan hidup abadi.

* * *

Minggu, 03 Desember 2017

TIYANG JAWI KUNA

Mahesa Reksa Kembara

TIYANG JAWI KUNA

Peninggalan prasasti- prasasti dari zaman Mataram kuno banyak memberikan informasi tentang orang- orang yang hidup di zaman itu, khususnya yang berkaitan dengan peristiwa penetapan sima (wilayah perdikan yang bebas dari pemungutan pajak).

Prasasti yang memberitakan hal itu antara lain Prasasti Wanua Tengah III (908 M) dan Prasasti Rukam. Kedua prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakai Watukura dyah Balitung, raja Kerajaan Medang ri Poh Pitu.

Para kawula Mataram kuno yang disebut dalam prasasti umumnya mereka yang berjasa atau ikut terlibat dalam upacara penetapan sima. Mereka biasanya merupakan para nayaka yang memegang jabatan di tingkat wanua (desa) dan juga watek (daerah yang membawahi beberapa desa- desa).

Nama- nama mereka biasanya di dahului dengan kata sandang "Si-" dan diikuti nama anak tertuanya, terkadang nama istrinya juga ikut dicantumkan dibelakangnya.

Rakyat Mataram Kuno

Berikut nama- nama kawula Mataram kuno yang hidup di abad ke-10, yang namanya diabadikan dalam Prasasti Wanua Tengah III (908 M), peninggalan Sri Maharaja Rakai Watukura dyah Balitung yang bertahta di Medang ri Poh Pitu ;

Ma..uh ayahnya Sadhana (Pagerwesi),
Si Syama ayahnya Bikra (Pikatan Asampanjang),
Si Kusuma ayahnya Lagah (Pikatan Wijyangin),
Si Mrah ayahnya Astiti (Pikatan Gunung),
Si Balawa (Pikatan Asampanjang),
Si Jalu ayahnya ... (Pikatan Lekan),
Si Rasuk (Tirasi ing),
Si Dhawala ayahnya Kesara (Tirasi ing),
Si Manghu ayahnya Kanaka (Wanua- prana),
Si Ananta ayahnya Kandara,
Si Balu ayahnya ...,
Knda ayahnya Prih (Pagerwesi),
Si Towon ayahnya Ara Sowang (Sang Nara Hawala Sang Tawan Kupang),
... ayahnya Asih,
Si Mandyas ayahnya Weda (Piyungganya),
Si Gayatri (Pikatan Dhamuran),
Si Sodai ayahnya Basu (Wanua Tengah),
Si Kusala ayahnya Rawa (Wanua Tengah),
Si Wangan ayahnya Sarini (Wanua Tengah?),
Si Dakat ayahnya Ladhanakali? (Wanua Tengah?),
Si Gowana ayahnya Ujso,
Si Bisawa ayahnya Baila,
Si Kalula ayahnya Prayanta,
Si Candra ayahnya Geda,
Si Kito ayahnya Mudita,
Si Pundut ayahnya Landu,
Si Tanjungan ayahnya Bacung,
Si Luwdira,
Si Hada ayahnya Sura,
Sagflar ayahnya Sekar,
Gularan ayahnya Ratni,
Si Angira ayahnya Bisuddhi,
Si Lewih ayahnya Karengean,
Si Julay ayahnya Sabdang,
Si Yukti ayahnya Kebha,
Si Wadua ayahnya Sukhami,
Si Godog ayahnya Sunddhi,
Si Mahi ayahnya Masondri,
Si Wareg ayahnya Panda,
Si Tuli ayahnya Basi,
Si Risi ayahnya Besu (Wijyangin),
Si Pipul ayahnya Buntar (Wijyangin),
Si Rarana ayahnya Limak (Tumpal),
Si Candra ayahnya Cara ,
Si Kadal ayahnya Gundal,
Si Blondo ayahnya Budanta,
Si Ku (di Kuluwsya),
Si Grihita,
Si Sojasa (di Panunggalan),
Si Mara ayahnya Atis,
Si Baskara ayahnya Dewi (di Layunganak),
Si Rua Galuh ayahnya Wudi (di Hulu wanua),
Si Gujil,
Si Kalula ayahnya Yukti,
Pu Japunan (di Samalagi),
Si Kali ayahnya Nita (di Pikatan),
Si Pangalaman,
Si Kaca ayahnya Radhini,
Si Sula ayahnya Basi,
Si Suti ayahnya Widya,
Si Wangun,
Si Hring ayahnya Cakra,
Si Ama ayahnya Celeng (di Lua),
Graswa ayahnya Agam (desa Titang watak Pikatan),
Si Gedil ayahnya Mundil (desa Wdi),
Si Kling ayahnya Sdang (desa Wanua Tengah),
Si Rsuk (desa Tinor),
Si Wilasa ayahnya Tatha (desa Pangkur watak Ayam Teas),
Si Dayanna (desa Kahangatan watak Hammes),
Si Janggi ayahnya Wulakan (desa Wadung Poh watak Pangkur Poh).

Demikianlah nama- nama kawula Mataram kuno yang disebut namanya dalam Prasasti Wanua Tengah III. Mengingat lokasi penemuan prasasti ini di daerah Kaloran, kabupaten Temanggung, mungkin sebagian besar nama- nama yang tercantum berdomisili di sekitar situ. Atau jangkauan yang agak luas bisa mencakup daerah Wonosobo-Temanggung-Magelang (eks karesidenan Kedu).

* * *

RAKAI MATARAM SANG RATU SANJAYA

Mahesa Reksa Kembara

PRASASTI CANGGAL SEBAGAI SIMBOL LINGGA KEKUASAAN RAKAI MATARAM SANG RATU SANJAYA

Pada umumnya para sejarawan sepakat bahwa Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah pendiri Kerajaan Medang atau yang lazim disebut Mataram kuno.

Meskipun nama beliau begitu masyhur di seluruh tanah Jawa, namun sedikit sekali yang kita ketahui tentang sejarah kehidupan dan masa pemerintahan beliau. Hal itu disebabkan karena hingga saat ini baru satu prasasti yang ditemukan yang merupakan prasasti peninggalan raja Sanjaya, yaitu Prasasti Canggal (732 M).

Sedangkan dua prasasti lainnya yaitu Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M) yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung hanya menyinggung sekilas nama beliau.

Satu-satunya sumber yang mengisahkan sepak terjang beliau adalah Carita Parahyangan, yaitu sebuah naskah kuno yang ditulis pada lembaran- lembaran rontal yang konon berasal dari Sumedang, Jawa Barat.

Namun mengingat naskah ini baru ditulis pada abad ke-16, dan berselang berabad-abad dari masa kehidupan Sang Ratu Sanjaya, maka naskah ini hanya digunakan sebagai sumber data sekunder.

Di sini saya tidak akan membahas kisah kepahlawanan Rahyang Sanjaya dalam naskah Carita Parahyangan, melainkan saya hanya akan berbagi mengenai isi dari Prasasti Canggal yang merupakan satu-satunya prasasti peninggalan beliau.

PRASASTI CANGGAL (732 M)

Prasasti Canggal ditemukan di kompleks Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Berita tentang penemuan ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 10 Maret 1884, dalam sebuah sesi pertemuan anggota kelompok ilmiah Royal Academy di Amsterdam, Belanda.

Prasasti Canggal merupakan salah satu peninggalan terpenting dari Kerajaan Mataram Kuno Periode Jawa Tengah. Pada prasasti ini ditemukan angka tahun penulisan prasasti, sehingga para arkeolog dapat memperkirakan awal berdirinya Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa.

Angka tahun penulisan prasasti itu termuat dalam sebuah candra sengkala yang berbunyi "Sruti Indriya Rasa" (Sruti = 4, Indriya = 5, Rasa = 6) yang menyatakan tahun 654 Saka atau 732 Masehi.

Prasasti Canggal hingga saat ini merupakan prasasti berangka tahun tertua di tanah Jawa, karena sebagaimana kita ketahui prasasti-prasasti raja Purnawarman di Jawa Barat yang diperkirakan usianya lebih tua tidak satu pun mencantumkan angka tahun.

Prasasti Canggal ditulis menggunakan aksara Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta dialek awal yang menurut para ahli dirasa "kurang elegan" bila digunakan pada dokumen kerajaan. Dalam sebuah studi komparatif mengenai epigrafi, disebutkan bahwa baik bahasa, aksara maupun isi yang terdapat pada Prasasti Canggal, secara umum memiliki kemiripan dengan Prasasti Han Chei yang terdapat di Kamboja yang berasal dari pertengahan abad ke-7 Masehi. Fakta ini menguatkan pendapat para ahli bahwa kedua prasasti itu memang berasal dari periode yang sama.

Prasasti Canggal memuat 25 baris tulisan yang terbagi menjadi 12 klausal yang dipahatkan pada sebuah lempengan batu persegi panjang berwarna kecoklatan. Terdapat pahatan berupa ornamen floral pada bagian atas dan bawahnya yang berfungsi sebagai frame border dari isi prasasti. Beberapa bagian dari prasasti ini telah mengalami kerusakan, terutama pada bagian kakinya.

Isi Prasasti Canggal

(1) CAKENDRE'TIGETE CRUTINDRIYA-RASAIRANKIKRTEVATSARE.VARENDAUDHAVALA-TRAYODACI-TITHAUBHADROTTAREKARTIKE.LAGNEKUMBHAMAYESTHIRANGA-VIDITEPRASTISTHIPATPARVATELINGANLAKSANA-LAKSITAMNARAPATICCRISANJAYACCANTAYA.

Pada tahun raja-Caka yang telah lalu dengan ditandai angka Cruti Indriya Rasa = 654 Caka (732 M), hari Senin, hari baik, tanggal 13 paro terang bulan Kartika ............ .... Sang Raja Sanjaya mendirikan lingga yang ditandai dengan tanda-tanda (yang telah dipastikan) di bukit yang bernama Sthirangga untuk keselamatan (rakyatnya).

(2) GANGOTTUNGA-TARANGA-RANJITA-JATA-MAULINDU-CUDAMANIH.BHASVAT-PANKTI-VIBHUTI-DEHA-VIKASANNAGENDRA-HARA-DYUTIH.CRIMAT-SVANJALI-KOCA-KOMALA-KARAIRDEWAISTU YA (S) STUYATE.SACREYOBHAVATAMBHAVOBHAVA-TAMASSURYODADATVADBHUTAM.

Sang Dewa Bhawa (Çiwa), sang matahari bagi kegelapan hidup (ini), yang dihormati oleh sekalian dewa-dewa seraya menelakupkan kedua tangannya yang halus menjadi seperti cupu-cupu untuk menyembahnya dengan hormat; yang memakai serampang raja ular; yang mengembangkan diri menjadi berbagai-bagai kenikmatan yang gilang gemilang (di dunia ini); yang bersanggul mahkota terhias dengan manikam yang berupa bulan sabit, dan berkilauan seperti gelombang Sungai Gangga yang suci; moga-mogalah beliau memberi kemuliaan yang sangat besar kepada kamu sekalian.

(3) BHAKTHI-PRAHVAIRMUNINDRAIRABHINUTANASAKRTSVARGA-NIRVANA-HETOH.DEVAIRLEKHARSABHADYAIRAVANATA-MAKUTAICCUMVITAMSAT-PADABHAIH.ANGULYA-TAMRA-PATTRAMMAKHA-KIRANA-LASAT-KECARARANJITANTAM.DEYATCAMCACVATAM VAS TRINAYANA-CARANANINDITAMBHOJA-YUGMA.

Kedua kaki sang dewa bermata tiga (Çiwa), yang bagus sempurna seperti bunga teratai dengan jari-jarinya, mengkilap karena cahaya kukunya; kedua kaki yang dihormati oleh sekalian pemuka para resi seraya berbakti merendahkan dirinya sambil memuja dengan syair-syairan yang sering disyairkan karena mereka ingin mendapatkan kenikmatan dalam akhirat; kedua kaki yang dihormati oleh para dewa yang dikepalai oleh Batara Indra seraya sujud sampai mahkotanya menyentuh tanah, seolah-olah kumbang yang mencium bunga teratai ( = kaki kedua) itu; moga-mogalah kedua kaki sang bermata tiga yang bagus sempurna itu memberi keselamatan yang kekal kepada kamu sekalian.

(4) AICVARYATICAYODBHAVATSUMAHATAMAPYAQDBHUTANAMNIDHIH.TYAGAIKANTA-RATASTANOTISATATAM YO VISMAYAMYOGINAM.YO'STABHISTANUBHIRJAGAT-KARUNAYAPUSNATINASVARTHATAH.BHUTECACCACI-KHANDA-BHUSITA-JATASSATRYAMVAKAHPATUVAH.

Beliau yang, karena sifatnya yang sangat luhur dan kuasa itu - menjadi gudang segala keajaiban yang besar-besar; yang senantiasa dengan ikhlas membuang kepentingan sendiri, selalu membuat heran kepada para pandita; Yang dengan badannya yang delapan memelihara dunia tidak untuk keperluan sendiri, tetapi karena belas kasihnya; moga-mogalah sang bermata tiga raja dari sekalian makhluk, yang mahkotanya terhias dengan bulan sabit itu memberikan perlindungan kepada kamu sekalian.

(5) VIBHRAD-DHEMA-VAPUS-SVADEHA-DAHANA-JVALAEVODYAJ-JATAH.VEDA-STAMBHA-SUVADDHA-LOKA-SAMAYODHARMARTHA-KAMODBHAVAH.DEVAIRVANDITA-PADA-PANJAKA-YUGOYOGICVAROYOGINAM.MANYOLOKA-GURURDADATUBHAVATAMSIDDHIMSVAYAMBHURVIBHUH

Sang jagad guru (dewa Brahma) yang termulia, raja pandita dari sekalian seperti bunga teratai - dihormati oleh para dewa; yang memberi kesenangan, kefaedahan dan kebaikan (di dalam dunia ini); yang mengikat tata-cara manusia dengan tihang yang sangat teguh yakni kitab Veda-veda; yang bermahkota tinggi berkilau-kilauan seperti api menyala, api yang keluar dari badan sendiri, badannya yang mengkilap seperti emas; moga-mogalah dewa yang terjadi dengan sendirinya (Svayambhu = Brahma) dan sangat berkuasa itu memberi kamu sekalian kesempurnaan.

(6) NAGENDROTPHANA-RATNA-BHITTI-PATITAMDRSTVATMA-VIMVA-CRIYAM.SUBHNUBHANGA-KATAKSAYAKUPITAYANUNAM CRYAVIKSITAH.YOYOGARUNA-LOCANOTPALA-DALACCETE'MWU-CAYYA-TALE.TRANARTHAM'TRIDACAISSTUTASSABHAVATAMDEYATCRIYAMCRIPATIH.

Sang dewa Wisnu yang dilihat oleh parameswarinya, dewi Çri, dengan mata mengerling dan alis melengkung karena marah (yang pura-pura), sambil bercermin memandang bayang-bayangnya di dalam menikam di atas kepala naga raja yang membeberkan leher; sang dewa Wisnu yang matanya merah - seperti kelopak bunga tanjung - karena khusuknya bersemedi; dia yang berbaring di atas laut yang dihormati oleh para dewa karena pertolongannya; Semoga Sang dewa Wisnu itu memberi kebahagiaan kepada kamu sekalian.

(7) ASIDDVIPAVARAMYAVAKHYAMATULAMCHANYADI-VIJADHIKAM.SAMPANNAMKANAKAKARAISTAD-AMARAI(SSAKSADIVOPARJITAM).CRIMAT-KUNJARA-KUNJA-DECA-NIHI(TAMLIN) GADI-TIRTHAVRTAM.STANAMDIVYATAMAMCIVAYAJAGATACCAMBHOS TUYATRADBHUTAM.

Adalah pulau mulia, bernama Jawa, yang tak ada bandingannya tentang hasil buminya, terutama hasil padi; Kaya akan tambang emas yang semata-mata diakui kepunyaan para dewa; pulau yang penuh dengan tempat-tempat pemujaan suci, Kunjarakunja namanya untuk keselamatan dan kemakmuran dunia.

(8) TASMINDVIPE YAVAKHYEPURUSA-PADA-MAHALAKSMA-BHUTEPRACASTE.RAJOGROD-AGRA-JANMAPRATHITA-PRTHU-YACASAMA-DANENASAMYAK.CASTASARVA-PRAJANAMJANAKAIVACICORJANMATOVATSALATVAT.SANNAKHYASSAMNATARIRMANURIVA SU-CIRAMPATIDHARMENAPRTHVIM.

Di pulau Jawa tersebut, yang sangat masyhur menjadi mustika di antara tempat manusia lain-lainnya, di situ ada seorang raja, Sang Sanna namanya, berasal dari keluarga kerajaan tinggi dan masyhur karena jasanya yang sangat besar, memerintah sekalian rakyatnya dengan kebaikan, anugerah kehalusan budi, seolah-olah seorang bapak (mendidik) anaknya mulai dari kecil karena cintanya; yang menaklukkan musuhnya dan seperti Sang Manu sangat lama memerintah kerajaannya dengan keadilan.

(9) EVAMGATESAMANUCASATIRAJYA-LAKSMIMSANNAHVAYE'NVAYAVIDHAUSAMATITA-KALE.SVARGESUKHAMPHALA-KULOPACITANPRAYATE.BHINNAMJAGADBHRAMATICOKA-VACADANATHAM.

Setelah raja yang bernama Sang Sanna yang seperti bulan bagi turunannya itu, mendiang sesudah beliau sangat lama memelihara kebahagiaan negaranya, dan pergi ke swargaloka untuk merasakan kenikmatan, yakni himpunan tabiatnya yang sangat baik itu, maka pecahlah negaranya, (rakyatnya) bingung karena sedih kehilangan perlindungan.

(10) JVALAJ-JVALANA-VIDRAVAT-KANAKA-GAURA-VARNAH.MAHAD-BHUJA-NITAMVA-TUNGATAMA-MURDDHA-CRNGONNATAH.BHUVISTHITA-KULACALA-KSITI-DHAROCCA-PADOCCHRAYAH.PRABHUTA-GUNA-SAMPADODBHAVATIYAS TATOMERUWAT.

(Adapun) yang berbangkit (menggantikannya menjadi raja), yakni seorang yang warna kulitnya berkilau-kilauan seperti emas yang luluh di dalam api yang berkobar-kobar... ........; yang mempunyai lengan kuat seperti bukit barisan turun dari puncak bukit indungnya, yang mengangkat kepalanya sangat tinggi seperti bukit meru (Himaĺaya) dengan puncaknya; yang kakinya terletak lebih tinggi dari pada kepala raja-raja yang duduk di tanah,

(11) CRIMANYOMANANIYOWUDHA-JANA-NIKARAICCASTRA-SUKSMARTHAVEDI.RAJACAURYADI-GUNYORAGHURIVAVIJITANEKA-SAMANTA-CAKRAH.RAJA CRISANJAYAKHYORAVIRIVAYACASADIG-VIDIK-KHYATALAKSMIH.SUNUSSANNAHA-NAMNASSVASURA (VANIPATER) NYAYATACCASTIRAJYAM.

Yang termulia dan dihormati oleh sekalian para bijaksana karena pengetahuannya akan kitab-kitab dengan maksudnya yang sulit-sulit; seorang raja yang bertabiat gagah berani seperti Çri Rama, menaklukkan sekalian raja-raja di sekitar negaranya. Namanya ialah sang raja Çri Sanjaya, dengan jasanya yang bagaikan matahari, masyhur di mana-mana mempunyai kebahagiaan, beliau ialah putera Sang Sannaha, saudara perempuan sang raja (Sanna tersebut di atas).

(12) YASMINCHASATISAGARORMI-RACANAMCAILA-STANIMMEDINIM.CETERAJA-PATHEJANONACAKITACCORAIRNACANYAIRBHAYAIH.KIRTYADYAIRALAM-ARJITACCASATATAMDHARMARTHA-KAMANARAIH.NUNAMRODITIRODITITISA KALIRANCA-CESOYATAH.

Selama raja ini memerintah kerajaannya yang berpending gelombang samudra dan bertetek bukit-bukit, maka orang yang tidur di tepi jalan raya tidak takut penjahat dan bahaya lain-lainnya oleh manusia, manusia yang kaya akan nama baik tercapailah selalu kesenangan, kefaedahan dan kebaikan dengan cukup. Sekarang Sang Kali seolah-olah hanya menangis-nangis saja, karena tidak dapat bagian suatu apa.

[Sumber : Prasasti Canggal, Ki Demang Sokowaten, 15-12-2016]

Catatan : Untuk menghindari kesalahan dalam pemenggalan kalimat, penulis tidak menggunakan spasi pada teks Sanskerta di atas, kecuali spasi yang ada di sumber penulisan.

* * *